Sengkang dan Kabupaten Wajo

No Comments

Kota Sengkang adalah ibu kota kabupaten wajo yang merupakan salah satu kota kecil yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Dikutip dari id.wikipedia.org luas wilayah keseluruhan kota sengkang adalah 38,27 km2 yang meliputi satu kecamatan yaitu kecamatan tempe atau terdiri dari 16 kelurahan. Dikutip dari stiaprima.ac.id arti kata Sengkang adalah tempat atau daerah persinggahan, kedatangan, dan bersama-sama datang. Sehubungan dengan arti kata Sengkang bisa kita simpulkan bahwa lokasi atau posisi kota ini sangat strategis bagi beberapa orang yang melewatinya dan singgah untuk berwisata melihat sesuatu yang menarik dari kota ini.

Resource image : id.wikipedia.org

Kata wajo juga memiliki sebuah sejarah, wajo artinya bayangan atau bayang-bayang (wajo-wajo). Ada banyak versi tentang kata wajo salah satunya yaitu kisah We  Tadampali, dikutip dari website id.wikipedia.org seorang putri dari kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta, sang putri di hanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan itu sekarang disebut Majauleng, berasal dari kata maja (sakit) dan oli’ (kulit). Katanya yang membuat sang putri bisa sembuh adalah jilatan dari seekor kerbau belang di tempat yang sekarang dikenal dengan nama sakkoli (sakke=pulih dan oli’=kulit). Setelah sang putri sembuh, pengikutnya yang setia membangun masyarakat baru di daerah tersebut hingga tiba masanya seorang pangeran bone (ada yang mengatakan Soppeng) singgah untuk beristirahat di daerah itu. Singkat cerita sang putri dan pangeran bone ini jatuh cinta dan akhirnya menikah dan melahirkan keturunan-keturunan raja wajo. Wajo sebuah kerajaan yang memiliki sistem berbeda dari kerajaan lainnya, sistem to manurung tidak berlaku di kerajaan wajo melainkan elektif atau demokrasi terbatas yang berlaku disini.

Pada abad ke 16 dan 17 terjadi persaingan yang ketat antara kerajaan Makassar (Gowa Tallo) dengan kerajaan Bugis (Bone, Wajo, dan Soppeng) yang membentuk sebuah aliansi yang bernama Tellumpoccoe untuk mendukung ekspansi Gowa. aliansi ini runtuh saat Wajo berpihak ke Gowa karena Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada gabungan Bone dan Soppeng , VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani Perjanjian Bongaya. Akibat dari itu armada gabungan Bone yang dibawahi oleh Arung Palakka saat itu menggempur Wajo tepatnya di Benteng Tosora selama 3 bulan. Hingga saat datangnya La Maddukelleng Arung Matowa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, dan Sultan Pasir. Merekalah yang memerdekakan wajo sehingga mendapatkan gelar Petta Pamaredekangingi Wajo (Tuan yang memerdekakan wajo).

Tetapi dibalik sejarah itu semua masih ada sebuah kontroversi yang belum terpecahkan tentang Arung Matowa Wajo yang memiliki beberapa versi yaitu:

  1. Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah dia terjadi kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
  2. Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
  3. Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi. Dikutip dari id.wikipedia.org
Resource image : 1.bp.blogspot.com

Seiring berjalannya waktu dan bergantinya pemerintahan kota Sengkang sekarang sudah berkembang pesat mulai dari sumber daya yang ada, objek wisata, dan fasilitas yang sangat lengkap. Salah satu ciri khas dari kota wajo adalah sutranya, kota Sengkang memiliki nama lain yaitu kota sutera. Bangunan dengan lukisan kain sutera menjadi ikon kota gapura kota sengkang, ikon yang bertuliskan Kota Sutera ini terletak di Sempang E, poros Wajo sidrap, kecamatan Tanasitolo, Wajo. “Biasanya pengendara singgah sejenak untuk mengambil gambar karena bangunan itu ciri khas Wajo sekali”, kata Baso Asri, warga setempat kepada tribunwajo.com. Karena terkenal dengan suteranya wajo memiliki sebuah perkampungan sutera yang terletak di Desa Pakkanna. Desa ini sangat cocok dikunjungi karena menjadi salah satu pusat sutera di wajo, hampir semua penduduk di desa ini adalah pengrajin sutera.

Resource image: www.celebes.co

            Selain itu di desa ini juga terdapat showroom yang menjual berbagai macam kain tenunan sutera. Sehingga para wisatawan bisa melihat langsung bagaimana cara penenunan benang sutera menjadi sebuah kain, cara menenun di desa ini masih menggunakan alat tradisional, dan para wisatawan juga bisa melihat dan belajar langsung cara menenun sutera.

About us and this blog

We are a digital marketing company with a focus on helping our customers achieve great results across several key areas.

Request a free quote

We offer professional SEO services that help websites increase their organic search score drastically in order to compete for the highest rankings even when it comes to highly competitive keywords.

Subscribe to our newsletter!

More from our blog

See all posts

Leave a Comment